Friday, May 23, 2008

Asimilasi dan Keturunan Tionghoa di Indonesia

Tulisan ini saya buat karena teriinspirasi dari buku Cokin? So what gitu loh!

Perkembangan Asimilasi Keturunan Tionghoa di Indonesia pada dimulai dengan tercetusnya ide asimilasi yang didukung orde baru melalui tokohnya Sindhunata yang merupakan keturunan Tionghoa yang juga anggota TNI melalui LPKB. Sedangkan ide akulturasi muncul dimotori oleh Siauw Giok Tjhan melalui Baperki.
Kemunculan orde baru juga menandai munculnya ide asimilasi total terhadap permasalahan keturunan Tionghoa di Indonesia. Para aktivis Baperki kemudian ditangkapi dan dicap sebagai antek komunis. Dimana pada saat itu para pemimpin Baperki disinyalir merupakan sekutu dari PKI dan hingga sekarang tidak pernah terbukti dugaan tersebut.
Dalam perkembangannya asimilasi total yang didukung Orde Baru tidak pernah berhasil menyelesaikan permasalah etnik Tionghoa di Indonesia. Salah satu hal yang tidak diperhatikan oleh pemerintah orde baru adalah fenomena sosial.

Fenomena sosial berbeda dengan fenomena slam. Fenomena sosial tidak teratur, tidak seragam dan relatif mudah berubah. Sedangkan kebalikannya fenomena alam teratur, seragam dan relatif tetap. Di tambah lagi dalam ilmu sosial orientasi utama bukan hanya fakta tapi juga ditambah nilai.
Terlebih lagi para pencetus asimilasi total tersebut berperan sebagai subjek dan permasalahan dianggap objek. Namun bagaimana ia bisa melihat hal tersebut sebagai objek jika ia sendiri berada di tengah-tengah dari permasalahan tersebut???? Hal tersebut sesuai dengan pemikiran konstruktivisme yang menyatakan bahwa jika saya memahami realita maka saya juga di tengah-tengah realita sehingga saya dan realita tidak mungkin berhadapan.
Maka permasalahan pembauran etnik Tionghoa tidak seharusnya diatur oleh pemerintah lewat pemaksaan asimilasi secara total. Permasalahan pembauran tersebut hendaknya berjalan dengan sendirinya yakni dengan akulturasi. Dimana prinsip salad bowl diterapkan. Dimana tidak perlu meninggalkan identitas diri untuk menjadi satu bangsa.

No comments: